• 26-Aug-2020

Panas Gandong Rutong-Rumahkay Mempertahankan Budaya Pela Gandong di Maluku

Masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang hidup dalam lingkup budaya yang beraneka ragam. Kebudayaan Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai latar belakang budaya yang merupakan kekayaan budaya Indonesia. Maluku adalah salah satu provinsi kepulauan yang mempunyai budaya salah satunya yang paling dikenal yaitu pela dan gandong.

Sejarah pela dan gandongdi bangun dengan pranata tradisional yang sejak dulu hidup dan berkembang sebagai suatu perekat hubungan sosial antara satu Negeri dengan Negeri yang lain tanpa memandang agama. Pela dan gandong bertujuan untuk membentuk kerukunan, membangun gotong royong dan menciptakan ketertiban serta perdamaian. Panas Pela dan Panas Gandong biasanya dilakukan oleh Negeri-Negeri yang ada di Maluku termasuk Negeri Rutong dan Negeri Rumahkkay.

Negeri Rutong di pulau Ambon dan Negeri Rumahkay di pulau Seram adalah Gandong atau sekandung. Sejarah hubungan Gandong Rutong dan Rumahkay berawal dari leluhur Marga Kakerissa,Corputty dan Atapary datang dari Pulau Seram dengan menggunakan rakit sampai ke Negeri Rutong Pulau Ambon. Leluhur Rumahkay diterima oleh Marga Lessy dan dijinkan untuk tinggal di Negeri Rutong. Kemudian leluhur Kakerissa berubah nama menjadi Maspaitella, Leluhur Corputty menjadi Talahatu dan Leluhur Atapary menjadi Telapary.

Pada tanggal 18 Maret 1941 terjadilah Panas Gandong Rutong dan Rumahkay untuk pertama kalinya yang dilaksanakan di Negeri Rutong. Panas Gandong Rutong dan Rumahkay pasa saat itu mengeluarkan peraturan adat yaitu masyarakat kedua negeri dilarang kawin-mawin, apabila masyarakat melanggar akan dijatuhi hukum adat bailele. Negeri Rutong dan Negeri Rumahkay sepakat untuk menyelenggarakan Upacara adat Pada tanggal 18 Maret dan dilaksanakan setiap lima tahun sekali secara bergantian di Rutong dan di Rumahkay. Hubungan Gandong diberi Akronim AMALOPU yang berarti gabungan nama adat kedua Negeri Amakele Lorimalahitu dan Lopurisa Uritalai.

Pemanasan Gandong Rutong Rumahkay menjadi tolak ukur untuk mempertahankan budaya Pela Gandong di Maluku. Kemajuan Teknologi yang semakin pesat tidak memberikan dampak surut kepada masyarakat Negeri Rutong dan Negeri Rumahkay karena mereka tetap melaksanakan hubungan Gandong yang Bertajuk Pemanasan Gandong Rutong – Rumahkay 18 Maret 2020. Semangat Hubungan kekerabatan antara kedua Negeri sudah berjalan beberapa kali dengan diadakan sebelumnya Pemanasan Gandong  2014 di Negeri Rumahkay. Semangat generasi muda kedua Negeri menjadi alasan yang kuat untuk mempertahankan dan melestarikan hubungan Panas Gandong yang akhir-akhir ini tidak dilakukan oleh Negeri-Negeri lain di Maluku untuk melaksanakan momen serupa seperti Panas Pela.

Pada Tanggal 18 Maret 2020 Pelaksanaan Acara adat Pemanasan Gandong Rutong-Rumahkay dimulai dengan masyarakat Rumahkay menggunakan angkutan laut untuk memasuki Negeri Rutong. Acara yang dihadiri oleh ribuan masyarakat Rumahkay dan Rutong didominasi oleh generasi muda kedua Negeri, bahkan ada yang datang dari perantauan dan luar Negeri. Acara sakral dilaksanakan di tepi pantai saat Pelaku sejarah dari Rumahkay menggunakan rakit menuju kolam sapaloa tempat dimana Penduduk Negeri Rutong berada. Pohon bakau merupakan saksi sejarah yang tumbuh sampai pada saat ini dimana pohon itu diambil dari Negeri Rumahkay dan ditanam di sekitar Kolam Sapaloa tempat dimana acara sakral itu berlangsung.

            Acara Pemanasan Gandong Rutong-Rumahkay 18 Maret 2020 bernuansa budaya Maluku untuk melestarikan bahasa,lagu,kesenian dan pakaian adat yang merupakan identitas adat di Maluku. Peran generasi muda sangat kental terlihat dalam acara ini karena sebagian besar pendukung acara diisi oleh generasi muda yang akan melanjutkan tongkat sejarah Gandong Rutong dan Rumahkay. Sebuah monumen bergambar jabat tangan adalah bukti bahwa Pemanasan Gandong pada tahun 2020 sudah dilaksanakan dan pada saat musyawarah besar masyarakat Rutong dan Rumahkay memtuskan untuk memperat hubungan Gandong melanjutkan perjanjian dari para leluhur, serta melaksanakan Pemasanan Gandong berikutnya di Rumahkay pada tahun 2025.

            Mempertahankan dan melestarikan budaya Pela Gandong di era kemajuan teknologi adalah suatu hal yang luar biasa. Semoga Panas Gandong Rutong dan Rumahkay menjadi contoh bagi Negeri-Negeri adat di Maluku untuk kembali melaksanakan Panas Pela dan Panas Gandong serta mempertahankan budaya Pela Gandong di Maluku.

 

Ditulis oleh : Richardo Makatita, S.Pd.